Tampilkan postingan dengan label penelusuran gua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penelusuran gua. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

menuju ke kedalaman bumi


Luweng Ombo
Mendengar luweng Ombo bagi kebanyakan penggiat penelusuran gua pasti mengiranya di Pacitan, Jawa Timur. Beragam gua vertical maupun gua horizontal menyebar di pegunungan seribu. Kawasan karst yang luas membentang dari Panggang, Gunung Kidul ke timur hingga Tulung Agung Jawa Timur. Ciri karst Gunung Sewu adalah jajaran bukit karts yang menyebar di seluruh kawasan karst terutama di daerah Wonogiri, Jawa Tengah dan Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gua vertical sering disebut dengan luweng karena bentuknya menyerupai sumur (luweng dalam bahasa Jawa). Sebagai daerah yang terkenal dengan bentuklahan asal proses solusional, yaitu pelarutan batuan maka Gunung Kidul sering dikunjungi peneliti maupun penggiat caving dari mana pun, tak terkecuali kami. Kami yang terdiri dari tujuh orang yaitu Bekti, Fahmi, Zul, Kukuh, Adi, Incem, dan Viema adalah anggota aktif MAPAGAMA (mahasiswa pencinta alam UGM) mengadakan ekplorasi ke daerah Kemiri, lebih tepatnya adalah dusun Wates, Kemiri, Playen, Gunung Kidul. Banyak gua ditemukan di daerah ini, seperti misalnya adalah luweng Ombo yang kami telusuri waktu itu.
Luweng Ombo merupakan Sinkhole yang terbentuk atas colap atau reruntuhan dinding sehingga membentuk sumuran dengan diameter yang luas, kira-kira 60 an meter. Bentukannya menyerupai gua Jomblang, Semanu yang begitu familier di kalangan penggiat caving namun tidak selebar gua Jomblang. Dasang luweng Ombo ini pun terdapat vegetasi berupa semak belukar, dan dindingnya dipenuhi dengan lumut. Sewaktu musim hujan, dasar luweng Ombo ini digenangi air. Berhubung kami datang di musim kemarau, maka air pun tidak ada yang menggenang. Hampir sebagian besar dasar luweng Ombo ini berupa tanah gembur, yang merupakan pelapukan dari batuan kapur yang runtuh. Berbagai stalatit yang menggelantung di dinding gua dipenuhi oleh kelelawar yang ukurannya lumayan besar. Di dasarnya terdapat beberapa lubang yang diperkirakan kubangan yang dibuat oleh manusia untuk mengambil fosfat. Hal ini terlihat dari adanya jejak kaki dan kubangan yang lumayan besar, tidak seperti kubangan yang dibuat oleh hewan. Disamping itu, sewaktu kami menuruni luweng Ombo ini, di sisi kanan kami, yaitu di dinding luweng terdapat tapi tampar yang masih menggantung dan kemungkinan sudah lama terpasang di situ dikarenakan warnannya yang sudah using. Selain itu ditemukan pula sebuah webbing yang menggantung di salah satu ornament gua dengan sebuah carabiner yang sudah using pula. Di sampingnya ditemukan tangga yang terbuat dari bamboo menggelantung di tengah – tengah dinding luweng tersebut. Sungguh perjuangan yang berat menuruni luweng dengan alat seadanya dan tidak aman, “demi” dapat mengambil fosfat yang berada di dinding dan dasar gua (pikirku waktu itu). Luweng Ombo memeliki kedalaman kurang lebih 70 an meter long picth. Dengan pohon jati sebagai tambatan utama, dan di back up dengan besi yang sudah terdapat di sana, juga pohon yang kuat untuk mengampu beban kurang lebih 90 kg.
Berikut ini beberapa foto yang dapat kami ambil di luweng Ombo. Oya sebagai tambahan, di sekitar luweng terdapat camping ground atau setidaknya tanah lapang yang datar dengan rerumputan hijau yang dapat menampung hingga 12 tenda/ dome isi 6 orang. Di sekitarnya pohon kelapa, semak belukar, dan juga tegalan dari masyarakat setempat menambah menariknya daerah ini untuk dikunjungi. Dengan jarak tempuh dari Jogja hingga luweng yang tidak sampai 1,5 jam saja. Motor dapat dititipkan ketempat penduduk di rumah terakhir.

camping ground yang luas dan datar

vegetasi berupa semak belukar di dasar luweng Ombo

cahaya alamnya cocok buat latihan fotografi gua 

bergantung pada seutas tali menuruni luweng Ombo

Minggu, 12 Februari 2012

di kedalaman perut bumi itu...nampak sesuatu yang menakjubkan

Mengenal Gua #part 1
"take nothing but picture"
"kill nothing but time"
"leave nothing but footprint"
(etika penelusuran gua)
Tidak mengambil apa pun kecuali foto, tidak membunuh apa pun kecuali waktu, dan tidak mengambil apa pun kecuali jejak kaki...sudah tidak asing lagi di telinga para penelusur gua.



Gua bagi orang awam banyak yang membayangkan sebagai tempat yang menjijikkan, kotor, gelap, becek, banyak ular, cacing, bau, dan banyak yang menghubungkan gua dengan tempat mistis. Bahkan bagi salah satu warga di Bedoyo, Gunung Kidul menyatakan bahwa dahulu gua banyak yang ditutup. Oleh warga, mulut gua itu ditutup dengan batu. Batu-batu di tata sedemikian rupa sehingga tidak terlihat adanya gua, terlebih untuk gua  vertikal. Sekedar memberitahu (sapa tau ada yang belum tau,,,), gua menurut lorongnya dibedakan menjadi gua horizontal dan gua vertikal. Untuk panjang lorong dan bentukannya beraneka ragam, tergantung dari proses karstifikasi. Proses karstifikasi adalah proses dimana terjadi pelarutan batuan carbonat sehingga menjadi bentuklahan karst. Untuk gua vertikal sendiri kedalamannnya juga bervariasi, bahkan ada yang sampai 200-an meter dalamnya (Leang Putea di Sulawesi Selatan). 
Okey kembali lagi mengenai persepsi masyarakat yang dikaitkan dengan tempat mistis tadi. Banyaknya gua-gua yang ditutup oleh warga itu bukan karena alasan mistis. Melainkan karena banyak ternak-ternak mereka yang jatuh di luweng (sebutan untuk gua vertikal). Disamping itu juga pernah ada orang yang terjatuh, karena masuk tidak menggunakan pengaman. Karena kekhawatiran tersebut maka warga berusaha menjauhkan anak-anak mereka supaya tidak bermain-main di dekat gua. Banyak orang tua yang mengatakan kepada anak-anaknya bahwa gua itu ada naganya, di gua itu dulu sebagai tempat pembuangan orang. Dan ada pula yang mengatakan bahwa ada yang menjaga gua itu, jadi jangan pernah untuk memasukinya kalau masih ingin hidup.

Kenyataannya???
hem...menakjubkan sekali apa yang ada di dalam gua tidak akan ditemukan di permukaan bumi. Gua memang menyimpan banyak misteri. Melalui foto, video, atau cerita orang yang pernah masuk gua anda dapat membayangkan ornamen apa yang ada di dalam gua tersebut. Namun, sangat disayangkan bila anda cepat puas hanya sekadar membayangkan. Lebih takjub lagi adalah ketika anda melihat dengan mata anda sendiri keindahan di balik kegelapan perut bumi tersebut.  

Tapi perlu dipahami disini, kegiatan penelusuran gua bukan sebagai kegiatan wisata. Gua beserta ornamen-ornamennya terbentuk secara alami dan tidak instan. Biasa sampai jutaan tahun lamanya. Untuk itu perlu dilindungi atau dijaga agar tidak rusak. Misalnya stalaktit (salah satu oranamen gua yang menggantung di dinding gua) yang terbentuk dari tetesan air. Air tersebut bereaksi terhadap batuan carbonat yang permeable    dan menetes kebawah. Mineral yang tidak dapat larut akan mengendap membentuk sodastrow (seperti pipet air yang merupakan cikal bakal stalaktit). Kecepatan tetesan air tergantung banyaknya air dan jenis mineral batuannya. Untuk itu masuk gua tidak boleh sembarangan. Kita harus memperhatikan etika penelusuran gua yang telah dijelaskan di awal. Dan disamping itu, untuk menelusuri gua tidak bisa sembarangan kecuali untuk penelitian atau eksplorasi. Persiapan yang matang sesuai dengan standar operasional prosedure.

Mau tau apa aja yang ada di didalam gua???
Nantikan saja tulisan berikutnya..........................



Rabu, 04 Januari 2012

Di kedalaman Bumi

Luweng COKRO
Sinar matahari yang menembus masuk ketika pukul setengah 12 siang
Kanopi

Stalaktit yang sudah tidak aktif lagi
Luweng cokro terletak di daerah karangmojo, Gunung Kidul. berada di lereng perbukitan gunung sewu. Yang memiliki dua entrance dengan kedalaman sekitar 20-25 meter. Merupakan gua yang lembab dengan ornamen - ornamen banyak yang sudah tidak aktif. Ada stalaktit, stalalakmit, gordyin, kanopi, micro goursdam, dll. Gua cokro lorongnya di akhiri dengan adanya chamber atau ruangan yang lebar selebar lapangan bola.

Kalau anda sedang dalam perjalanan ke Gunung Kidul jangan lupa untuk singgah di warung depan Pasar Wonosari ini. Selain masakan (ramesannya) enak harganya pun terbilang murah. Di samping itu kalian dapat menikmati malam hari dengan teh poci yang mantab


Entrance luweng cokro yang sempit